Highlights from Jakarta Sister City Youth Program to Seoul, South Korea

Local Experience , South Korea / December 1, 2014


Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha

Begitu kalimat yang saya yakini ketika akhirnya sampai pada hari H keberangkatan program. Saya merasa beruntung bisa terpilih menjadi salah satu dari 11 Youth Delegate dari ratusan pendaftar untuk Jakarta Sister City International Youth Program ke Seoul, South Korea. Tahun 2015 ini, program yang berada dibawah naungan Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta memberangkatkan pemuda Jakarta ke sister city Berlin, Beijing dan Seoul. Program ini bertujuan untuk mempromosikan kerjasama antar sister city kota Jakarta.

Ada kenangan tersendiri bagi saya hingga bisa berangkat mengikuti program ini. Karena saya merupakan mahasiswa universitas yang berdomisil di Yogyakarta, dan kami sebagai delegasi harus mengikuti Pre Depature Training selama beberapa minggu secara intens di kantor Dinas Pemuda dan Olahrga DKI Jakarta, saya harus rela bolak balik Jakarta – Jogja naik kereta setiap weekend demi mengikutinya untuk bisa berangkat! Dalam Pre-Departure Training, kami mengikuti serangkaian kegiatan seperti latihan tari Jakarta, atribut, presentasi dan lain-lain untuk pelaksanaan program disana.

Rasanya sekarang sudah tidak ingat rasa pegel di kereta di perjalanan, atau rasa capeknya dimana weekend punya agenda padat, lanjut lagi kuliah pada weekdays. Tapi sekarang yang diingat adalah cerita dan pengalaman ini sebagai delegasi pemuda DKI Jakarta di negara orang! So, it’s safe for me to say that;

Pain is temporary, glory is forever

Or should I say, memories are forever 😉 

Di tulisan ini saya akan menceritakan hanya beberapa highlight dari pengalaman terlupakan saya di negeri ginseng sebagai delegasi pemuda DKI Jakarta.

 

Delegasi JSC di koran lokal Seoul

 

Day 1 highlights: Menginjakkan Kaki di Kota Sister City

Kunjungan pertama kami diawali dengan Program Orientation yang dilaksanakan di Seoul Young Entrepreneurship Centre. Kegiatan kami di Seoul beberapa hari ke depan akan di host oleh teman-teman dari Global Activist. Di dalam serangkaian kegiatan kami, akan banyak exposure terhadap public dan private sectors di sister city Seoul untuk melakukan observasi sert ariset yang akan kami tuangkan dalam bentuk gagasan untuk beberapa sektor pengembangan kota Jakarta ketika pulang.

The schedules was super packed, tight, tiring—but we were so excited for what’s to come!

Posing with my lovely batch


Kunjungan kedua kami adalah Cheongwadae Sarangchae. Cheongwadae merupakan hal eksibisi presidential multifungsi. Kunjungan kami kebetulan bertepatan dengan diadakannya acara eksibisi penghargaan desain souvenir South Korea dari tanggal 7 hingga 23 November 2014. Eksibisi tersebut menampilkan karya seniman lokal dalam membuat suvenir yang menggambarkan nilai yang terdapat dalam Korea Selatan yang merupakan kombinasi antar kreativitias dan sentuhan budaya tradisional Korea, sehingga budaya mereka dapat dipertahankan dan dikembangkan seiring dengan berjalannya waktu.

Kompetisi suvenir tersebut bertujuan untuk menonjolkan kreativitias keunikan setiap provinsi; mulai dari Seoul, Incheon, Busan, hingga Jeju Island. Contoh objek-objek yang ditampilkan ada dalam bentuk tumblr (botol minum), natural humidfliers, scent bamboo grove, kreasi peta Korea Selatan, bantal bamboo hingga board games pulau Jeju.

 

Sedikit dari hasil creative exhibition souvenir khas setiap kota di South Korea

Going to a hippie restaurant for dinner

 

Day 2 highlights: Performance Budaya Pertama

Hari kedua kami diawali oleh kunjungan ke Seoul NPO (Non-Profit Organization) Support Center. Seoul NPO Support Center merupakan bentuk komitmen dari motto Seoul Metropolitan Government yang berkata “Seoul with Sustainability of Public Activity”, yakni adalah untuk menjadi wadah untuk memberi dukungan pada aktivitias yang dilakukan oleh masyarakat. Kami melanjutkan perjalanan ke Seoul City Hall untuk mengikuti seminar dari Seoul Control Center. Sebelumnya kami dapat berkeliling bagian basement City Hall yang terbuka untuk umum.

At Seoul NPO Center

Disana kami dapat melihat kembali bagaimana Korea menghargai budaya yang mereka miliki, contohnya dengan museum kecil tentang pembangunan City Hall. Selain itu terdapat perpustakaan kecil, tempat untuk menyajikan acara seperti acara musik, museum suara dan juga kebetulan saat itu sedang ada pameran karya pemuda kecil dalam bidang seni.

Selanjutnya, kami mengikuti sesi seminar oleh Seoul Control Center dimana kami belajar mengenai sistem penataan transportasi di Korea. Teknologi yang digunakan sudah sangat canggih yaitu dengan teknologi TOPIS. TOPIS dapat mendeteksi setiap gerakan transportasi. Bagi transportasi publik, ia dapat mendeteksi kecepatan, kapan bis berikutnya akan sampai hingga alur yang dilalui. Tidak hanya itu, keadaan jalanan juga dipantau secara akurat oleh Seoul Center City menggunakan CCTV yang melengkapi setiap sudut kota.

 

Dekorasi hijau di dalam gedung Seoul City Hall

Ditengah presentasi dalam ruangan Seoul Control Center (TOPIS)

Kunjungan terakhir hari ini merupakan momen yang sangat berkesan untuk kami karena untuk pertama kalinya kami menampilkan art performance Indonesia yang sudah kami siapkan dari lama. Kami melakukan performance budaya menggunakan kebaya encim bagi peremmpuan dan baju sadariyah bagi laki-laki.

 

Setelah performance menggunakan pakaian kasual khas Betawi

Penampilan drum dari siswa di MAPO Youth Center

Dinner after the performance. Still using our Betawi costumes

 

Day 3 highlights: Mempelajari Program Pemerintahan Pelayanan Publik South Korea

Keesokan harinya, kami mengunjungi Flood Control System kota Seoul, tepatnya di Han River Flood Control Office. Lokasi pas bertepatan di sungai Han River, yang merupakan salah satu icon pariwisata terkenal karena kental dengan nuansa romantisnya yang sering ditampilkan dalam drama Korea. Tapi sia sangka disangka bencana alam yang suka menimpa Seoul mirip kasusnya seperti Jakarta, yaitu banjir.

Jika kemarin kita mengunjungi kantor pemerintahan Songpa-gu, kali ini kami mengunjungi Songpa-gu khusus kantor social economy support center. Disini kami mengikuti seminar dengan para pemimpin perusahaan dan pebisnis di Korea. Tidak lupa, kami menjalani hari ini dengan menggunakan dresscode batik khas Jakarta bermotif ondel-ondel dan monas.

Disini, kami menutup kunjungan kami dengan art performance menampilkan tarian Zapin dari Betawi pada partisipan seminar tersebut. Seusainya kami langsung bergegas menuju Foundation for International Activities untuk menemui calon homestay family kami.

 

Day 4 highlights: Being a Part of a Korean Family

(UPDATE: Cerita saya ketika tinggal bersama homestay family saya dapat dilihat di post terbaru di sini!)

Day 5 highlights: Bertukar Pikiran dengan Pemuda Korea 

Setelah semua delegasi melakukan perpisahan dengan keluarga hometsay kami dan berkumpul kembali, perjalanan kami lanjutkan lagi bersama kontingen Seoul dan panitia dari Global Activist. Kami kemudian bertemu dengan mahasiswa dari Sumyoung Woman University, tepatnya perwakilan organisasi SM-PAIR. Kegiatan kami bersama mereka antara lain mengunjungi universitas mereka, berekreasi ke Seoul Forest dan berdiskusi di Gangnam Young Entrepreneurship Center.

Di Seoul Forest, kami menikmati taman yang disusun dengan indah serta tempat eksibisi kecil untuk flora dan fauna. Musim gugur yang menimpa Korea Selatan saat itu sangat mempercantik pemandangan yang ada!

 

Main-main ke Sookmyung Women’s University

With the beautiful girls of SM-PAIR!

Saat kami mengunjungi Gangnam Young Entrepreneurship Center, masing-masing dari delegasi JSC dan SM-PAIR memberikan presentasi, pertama dari SM-PAIR adalah presentasi mengenai SM-Pair for Global Woman Leaders. Mungkin saya belum menceritakan mengenai organisasi SM-Pair ini. SM-Pair adalah SuMyoung Project for Asian and International Relations. Organisasi tersebut ingin meningkatkan kesadaran mahasiswa akan isu global dengan mengadakan konferensi, workshop dan sesi. Topik yang diambil berdasarkan isu terkini. Mereka pun sudah sering bekerjasama dengan HPAIR yaitu Harvard Project for Asian and International Relations yang berasal dari Harvard University.

Setelah pengenalan organisasi SM-PAIR, agenda dilanjutkan dengan presentasi dari delegasi JSC mengenai Jakarta dengan topik budaya, lingkungan dan tren globalisasi dalam masyarakat.

 

Salah satu presentasi dari delegasi JSC

Delegasi JSC bersama SM Pair

 

Hari ditutup dengan makan malam dan kontingen Seoul kembali ke penginapan di Seoul Partner House. Kami diberitahu oleh Kim bahwa Seoul Partner House ini biasa ditempati tamu gubernur Seoul, sehingga kami merasa saat beruntung! Desain budaya Korea Hanok dalam interiornya pun sangat kental.

 

Day 6 highlights: Tech Company Perspective in South Korea

Hari ini, kami melakukan kunjungan menuju gedung yang katanya adalah “Silicon Valey” nya Korea. Kenapa disebut begitu? Kalau di Amerika Serikat, Silicon Valey dikenal dengan wilayah pusat perusahaan IT terbesar di dunia mulai dari Facebook, Twitter, Google, dan sebagainya. Namun disini, dapat ditemukan perusahaan IT besar di Korea, seperti Samsung, Hansol, Ntreev dan Kakao. Kami diberikan kesempatan untuk mengadakan kunjungan pada salah satu perusahaaannya, yaitu Daum Kakao.

 

Selanjunya, kami mengunjungi Korean Association Against Drug Abuse (KAADA) dimana mereka menjelaskan bagaimana badan tersebut menanggulangi pengguna narkoba di Korea. Setelah melakukan kunjungan, kami dibawa untuk merasakan winter sport di Korea dengan bermain ice skating.

 

 

Day 7 highlights: There Lies Beauty in Written Culture

Kegiatan hari ini diawali dengan kunjungan singkat ke Korea Tourism Center. Didalamnya terdapat berbagai informasi yang dibutuhkan seputar pariwisata di Korea. Kami sedikit melakukan jalan kaki hingga sampai ke Seoul Global Center. Seoul Global Center merupakan organisasi yang dibangun untuk menjadi pusat konsultasi pendatang asing ke negara South Korea dalam menjalani kehidupan disana.

 

 

Kami melanjutkan perjalanan kami dengan mengisi perut dahulu saat makan siang yang dilanjutkan oleh kunjungan ke National Hangul Museum. Disana kami dibimbing oleh tour guide untuk mengetahui sejarah dikembangkannya Hangul–yaitu kaligrafi yang digunakan dalam bahasa Korea.

 

Setelah belajar sejarah hangul, kami langsung diberi kesempatan untuk mempraktekannya dengan kelas belajar kaligrafi Hangul di Travel University. Kami diajarkan huruf-huruf Korea mulai dari huruf vokal, latin dan diberi tugas untuk menulis nama kami dalam bahasa Hangul. Kami pun berhasil melakukannya. Malahan, diantara dari kami menulis kaligrafi hangul agar bisa kami bawa pulang untuk orang-orang terdekat kami sebagai oleh-oleh kenangan dari Korea.


Malam hari ini kami ditutup dengan mendatangi Namsan Tower, yakni pencakar langit terkenal di Korea. Tidak hanya karena ketinggiannya yang dimana bisa melihat indahnya kota Seoul dari atas, tapi karena tempat tersebut sangat romantis. Beruntung kami menghadirinya pada malam hari, pemadandangan city lights kota Seoul sangat indah!

 

Day 8 highlights: Melihat Sisi Seni Tradisional dan Modern Korea

Pagi hari diiringi nuansa dingin melalui hirupan angin pagi Seoul. Kegiatan kami berikutnya pun membuat semangat kami mengalahkan kedinginan yang menerpa, karena kami diberi kesempatan untuk pergi menuju destinasi berikutnya sambil melakukan perjalanan melewati Buckheon Village, yang merupakan bagian dari rangkaian rumah Hanok. Susunan perumahan desa tersebut menonjolkan interior budaya Korea yang sangat tradisional.

 

Jika di Buckheon Village kita menikmati keindahan interior tradisional Korea, destinasi selanjutnya memperkenalkan kami pada interior modern Korea. Keindahan arsitektur bukan main kita temukan di Dongdaemun Design Plaza yang dikenal dengan DDP. DDP merupakan bangunan yang baru saja diresmikan pada Februari 2014.

Bangunan ini merupakan pusat komunikasi kreasi industry desain, yang dulunya adalah stadium bola. Bahkan dua lampu sorot tingginya masih dilestarikan sebagai kenang-kenangan. Hal yang paling menonjol dari bangunan ini adalah arsitekturnya. Kami melakukan tur keliling DDP dipandu oleh seorang tour guide. Desain arsitektur DDP dibuat oleh Zaha Hadid, seorang arsitek dari Iraq-British.

 

Kembali mendalami kebudayaan Korea di Seoul History Museum. Kami dibantu mengeksplorasi sejarah terbentuknya kota Seoul dari tahun ke tahun oleh tour guide pihak museum. Ia membawa kami kembali ke masa lalu melalui ceritanya yang berjalan sesuai alur tahun sambil menunjukkan bentuk perkembangan Seoul dari foto yang dipajang. Ternyata dahulu bangunan di Korea nampak seperti bangunan Eropa, masih sangat kuno namun klasik.

Sore hari, kami diberikan kesempatan untuk mengunjungi istana terbesar di Korea. Gyeongbokgung Palace yang terletak di kawasan pusat kota. Saya kagum dengan negara ini karena mereka dapat mempertahankan kekayaan budaya mereka walaupun ditengah kemodernan kota ini.

Setelah itu, kami langsung bergegas ke menuju City Hall untuk menghadiri seminar yang diadakan oleh Heung Sa Dan (Korea Young Academy). Seminar tersebut membahas mengenai keinginan para pemuda untuk meraih kedamaian antara Korea Selatan dan Utara. Disana kami menampilkan art performance Saman. Entusiasme para penonton akan penampilan kami membuat kami sangat senang. Tidak hanya dari kami, mereka pun nmenampilkan beberapa art performance seperti drum, pansori dan modern classic.

 

 

Day 9 highlights: Last Day of Program

Tak terasa, kami sudah sampah di hari terakhir tentatif kegiatan penuh dari perjalanan kami! Sungguh, 10 hari terasa begitu cepat. Mapo Resource Recovery Plant menjadi tujuan pertama kami. Kunjungan ini merupakan salah satu favorit saya karena ilmu yang didapatkan. Tempat ini bertujuan untuk mendaur ulang emisi yang berasal dari bekas konsumsi manusia sehar-hari, yaitu sampah. Sampah tersebut berasal dari di 6 district di Seoul. Hebatnya, sampah yang terambil jumlahnya mencapai 700 ton per hari!

Seusai berbelanja, kami menuju ke Seoul Emergency Management, disana kami dijelaskan bagaimana cara Korea melakukan pengaturan untuk keadaan darurat seperti kebakaran, penduduk yang butuh pertolongan karena kecelakaan kecil ataupun pertolongan medis.

Dari situ, kami menyebrang ke MIZY (Seoul City Youth Cultural Exchange Center). Disana, teman-teman pemuda Korea dari MIZY dan kontingen Seoul melakukan presentasi pengenalan masing-masing. Teman-teman MIZY mempresentasikan tentang kegiatan yang mereka lakukan di MIZY. MIZY merupakan organisasi kepemudaan yang dibentuk dibawah Seoul Metropolitan Government yang mempunyai visi untuk memajukan mindset pemuda melalui pertukaran budaya atau cultural exchange

Kontingen Seoul kemudian melakukan presentasi tentang Jakarta. Dibuka dengan video Jakarta dan penjelasan tentang tourism, art and culture. Ditutup dengan tarian Betawi dari salah satu delegasi kami.

 

Lunch in the midst of our tight schedule

 

Day 10 highlights: Farewell

Sebelum meninggalkan kota Seoul, kontingen Jakarta Sister City menghadiri acara penutupan program yang diselenggarakan oleh Global Activist. Banyak pelajaran yang didapat dari program Jakarta Sister City selama 10 hari ini. Semoga temuan-temuan yang didapatkan sesuai dengan ketiga tema (Kewirausahaan, Lingkungan dan Kebudayaan) dapat berguna sebagai masukan untuk pembangunan DKI Jakarta yang semakin baik kedepannya.

 

Special thanks

Terima kasih saya ucapkan kepada Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta, Kota Jakarta, tidak lupa teman-teman Global Activist, teman-teman Ikatan Alumni Pemuda Jakarta Sister City dan terakhir teman-teman kontingen Seoul yang saya tidak bisa sebutkan satu per satu, yang memberikan bimbingan dan rasa kekeluargaan yang luar biasa selama proses berlangsungnya program ini.

 

Best,

Sabrina Anggraini

 

 

Update: Check out other posts for my South Korea journey

  • My homestay experience with Korean locals
  • Traveling in Seoul (finding escapes in our spare time!)
  • Gyeongbokgung Palace, a place of culture in the middle of the metropolitan city