Pulau Pisang: Keindahan Pesisir Barat Lampung

Indonesia , Travel Guide , West Sumatera / May 25, 2017


Lampung memang belakangan ini dikenal karena memiliki banyak pulau cantik, seperti Pulau Pahawang, Pulau Mengkudu, Pulau Sebesi, dan sebagainya. Namun, pulau-pulau yang dikenal ini cenderung lebih banyak terletak di Pesisir Selatan Lampung. Walaupun saya belum pernah mengunjungi pulau-pulau tersebut, kehadiran pertama saya di Lampung adalah pada daerah Pesisir Barat. Lebih tepatnya salah satu pulau yang belum terjamah, yaitu Pulau Pisang.
 
Pulau Pisang merupakan pulau kecil dimana bagian Barat-nya langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, sedangkan bagian Utara dan Timur berbatasan dengan Pulau Sumatera. Kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Pisang dalam rangka volunteer dalam rangka Pekan Nusantara bersama GEN Indonesia selama 4 hari 3 malam. 
 
Disini saya ingin share sedikit tentang beberapa keindahan wisata yang bisa dinikmati di Pulau Pisang;
 
 
 
 

Pesisir Pulpis

Pada dasarnya, semua pantai yang berada di Pulau Pisang ini disebut Pesisir Pulpis. Pantai Pulpis rata-rata memiliki pasir putih yang lembut, air laut yang biru serta dikelilingi pepohonan yang membuatnya semakin cantik. Namun, pesisir pulpis yang berada di sebelah kiri dermaga penyebrangan dari Krui merupakan pesisir yang menurut saya paling indah di Pulau Pisang karena disini pasirnya sangat putih bersih. 
 

Pasir putih di pesisir pulpis yang terletak di sebelah kiri Dermaga

Para nelayan yang memarkirkan kapal mereka di dekat dermaga

Cuaca yang saat itu agak mendung di Pulau Pisang

Pulau Pisang pun relatif belum terjamah oleh banyak turis. Sejauh ini, pulau ini lebih sering dikunjungi oleh turis warga Lampung yang tinggal di sekitar, sehingga tempat ini masih sangat bersih. Kadang turis bisa menikmati waktu mereka dengan camping di Pesisir Pulpis ini.

Dermaga yang masih dibangun

Trees on my right and the sea on my left!

Selain itu, kita juga dapat melihat lumba-lumba dengan menyewa perahu di pagi hari. Namun sayangnya, kedatangan saya waktu itu kurang beruntung karena ombak saat itu sedang besar sehingga tidak memungkinkan kami untuk melihat lumba-lumba. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa lebih baik datang kesini saat musim panas. 

 

Kearifan Lokal di Pulau Pisang

Desa Pulau Pisang yang merupakan satu-satunya desa disini belum memiliki listrik. Listrik biasa menyala dari pukul 18.00 hingga 23.00 menggunakan jenset. Sehingga waktu disana, beberapa menit sebelum 18.00 teng biasanya teman-teman sudah pada standby buat charger gadget masing-masing. Namun bagusnya kondisi begitu sih secara ga langsung memaksa kita untuk menikmati keindahan pulau tanpa kebanyakan terkonsumsi sama gadget kita.
 
Desa di Pulau Pisang bisa dibilang cukup sepi, hal itu bisa dilihat dari banyaknya rumah kosong yang kita lewati saat jalan kaki menelusuri pulau. Dari hasil obrolan bersama warga lokal, mereka cerita bahwa rumah-rumah kosong itu dikarenakan kebanyakan penduduk dari Pulau Pisang ini merantau, termasuk anak-anak yang juga merantau keluar pulau sejak mereka SMP. Sekolah di Pulau Pisang pun berhenti hingga jenjang SMP dan tidak banyak juga muridnya.
 

Di depan salah satu rumah warga yang ditata dengan cantik!

 
Kebanyakan rumah-rumah tua dan kosong yang ada di pulau pisang tersebut memiliki desain yang antik. Ada yang kayu dan ada yang dinding semen. Selain itu, disini juga banyak pengrajin benang mas dan tapis. Kita juga dapat bertemu ataupun melihat proses pembuatannya. Beberapa tempat lain yang bisa kita kunjungi saat di pulau pisang adalah Mercusuar peninggalan Belanda, kapal karam dan kebun cengkeh.
 

Perjalanan melewati rumah-rumah Desa Pulau Pisang

Bertemu dengan banyak pengrajin benang mas dan tapis di pulau ini

Ternyata udah ada tempat makan yang modelnya ala-ala Jalan Legian di Bali. Di dalam sini ada pool game yang biasa menjadi tempat warga nongkrong

Anak-anak Desa Pulau Pisang

 
 
 
 
 
Di Pulau Pisang ini cukup banyak hidden spot yang membuat kami kagum sekalinya kami menemukannya. Disini kami menelusuri pepohonan yang berada tidak jauh dari homestay kami dan tidak sengaja menemukan jalur yang ternyata nyambung ke salah satu pesisir pantai yang indah.
 

 

Salah satu pesisir pantai di Pulau Pisang yang dikelilingi oleh pepohonan

 

Sunset Spot Pulau Pisang

Jalan sedikit ke bagian timur dari pulau, ada spot untuk menikmati sunset yang wajib dikunjungi. Kami berjalan sambil menelusuri pepohonan hijau dan sambil melewati SD Labuhan. Perjalanan yang kami lewati dipayungi oleh pohon kelapa yang cukup tinggi. 
 
 

Perjalanan menuju sunset spot

 

Angin yang saat itu berhembus kencang meniup pepohonan sekeliling kami

 
Sesampai sunset spot, kami menikmati suasana pesisir pantai sambil menunggu matahari terbanan. Ada juga pemandangan batu karang besar di pinggir pantai yang indah karena perpaduannya dengan ombak dari lautNamun kita perlu lebih hati-hati disini, karena karangnya yang cukup licin dapat membuat kita mudah terpeleset. Perlu hati-hati juga dengan hewan-hewan pesisir yang mungkin ada di sekitar karang, karena kita mungkin gak tau jika ada yang berbahaya.
 

Indahnya pemandangan tebing-tebing dan laut ombak yang saling beradu

 
 

Detik-detik menuju matahari terbenam

 
 
 

 

Summing up the island life

Tidak seperti destinasi wisata Lampung yang terkenal di daerah Pesisir Selatan, sejauh ini baru ada 1 spot untuk snorkeling di Pulau Pisang. Namun kapan kita bisa snorkeling perlu ditanya lebih kritis lagi oleh warga, dikarenakan arus sekitar pulau yang relatif besar karena merupakan ombak lautan Samudera Hindia. Jadi disini sih enaknya jalan-jalan aja sambil menikmati pemandangan, kuliner dan juga menikmati destinasi yang saya baru ceritakan di atas 🙂 

 

 

 
 

Makan siang sambil menikmati pemandangan

 

Air sekitar pulau pisang yang sangat biru

 

Where to Stay

Walaupun pulau ini masih jarang dijamah oleh turis, sudah ada beberapa homestay yang bisa diinapi. Tempat yang saya singgahi saat itu adalah homestay Batu Mandi. Beruntungnya, tempat homestay tempat saya memiliki teras yang view-nya langsung ke pantai! Jadi bangun-bangun bisa langsung denger suara ombak dari laut. Pada malam hari, jika langit sedang cerah, kami juga dapat menikmati bintang-bintang yang indah.
 

Bukti bahwa bangun-bangun di homestay bisa langsung menikmati view dan nuansa pantai

 

 

How to Get There

Opsi 1 (opsi yang kami gunakan): Bisa dibilang Pulau Pisang memang lumayan jauh jangkauannya. Transportasi yang kami gunakan dari Jakarta – Pulau Pisang adalah via darat dan laut, dengan tiga mode transportasi; yaitu bis, kapal ferry dan kapal nelayan. Kurang lebih rute dan lama perjalanan yang kami tempuh menuju kesana adalah sebagai berikut;
 
Keberangkatan
01.00 – 04.00 = Semanggi, Jakarta Selatan – Pelabuhan Merak (Bis)
04.00 – 07.00 = Pelabuhan Merak – Pelabuhan Bakaheuni (Kapal Ferry)
07.00 – 18.00 = Pelabuhan Bakaheuni – Krui, Pesisir Barat Lampung (Bis)
19.00 – 20.00 = Krui, Pesisir Barat Lampung – Pulau Pisang (Perahu nelayan) Buat bagian ini, harus diakui ini lumayan andrenaline rush!)
Namun, di rekomendasikan untuk pergi ke sini malam-malam  Kami siap-siap menggunakan jas hujan dan melindungi barang-barang berharga kami karena sudah bisa dipastikan bahwa kami akan basah. Alhasil kami percaya sama yang tau kondisi perahu, walaupun di perjalanan gelombang ombaknya bikin deg-degan! It was my first time to experience such roller coaster in the middle of the ocean. Namun kami (dan barang-barang kami) berhasil tiba dengan selamat sehingga agenda di Pulau Pisang besok bisa tetap berjalan dengan lancar.
 
Kepulangan
09.00 – 10.30 = Pulau Pisang – Krui, Pesisir Barat Lampung + beres-beres barang (Bis)
10.30 – 22.00 = Krui, Pesisir Barat Lampung – Pelabuhan Bakaheuni (Bis)
22.00 – 1.00 = Pelabuhan Bakaheuni – Pelabuhan Merak (Kapal Ferry)
1.00 – 05.00 = Pelabuhan Merak – Semanggi, Jakarta Selatan (Bis) 
 
Opsi 2: Bisa juga buat yang mau lebih cepat datang melakukan perjalanan dengan pesawat dari Jakarta – Lampung (biasanya kalau dapat yang murah PP sekitar Rp 500,000,-) dilanjutkan dengan perjalanan Darat. Jalur ini sudah bisa memotong lama perjalanan yang apabila berangkat dari Jakarta Selatan – Kota Bandar Lampung via darat, balal ditempuh lebih ditempuh 12-15 jam.

 

Notes

  1. Sebaiknya mengunjungi Pulau Pisang saat musim panas untuk menghindari ombak dan angin besar saat penyeberangan dari Krui ke Pulau Pisang.
  2. Bawa alat pelindung barang berharga kita seperti kantong anti air maupun plastik agar tidak basah saat melakukan penyebrangan dari Krui ke Pulau Pisang.
  3. Mengingat aliran listrik di pulau ini hanya menyala dari pukul 6 sore hingga pukul 11 malam, pastikan kita membawa serta lampu cadangan atau senter untuk malam hari. Disarankan juga bawa colokan tiga biar gak brebutan colokan.
  4. Do not litter! Yuk jaga tempat ini agar selalu terkesan sebagai tempat yang belum terjamah.
 
Cheers,
Sabrina Anggraini