Mengenal Tongkonan, Rumah Adat Toraja

Culture , Indonesia , South Sulawesi , Travel Guide / August 17, 2017


Bicara soal Toraja, salah satu hal yang paling khas disana bagi saya ga lain adalah rumah adatnya. Selama perjalanan disana naik mobil, kanan kiri pasti melewati rumah tradisional Toraja yang lebih dikenal dengan sebutan rumah Tongkonan. Disini saya mau cerita tentang beberapa tempat yang bisa di datangi di Toraja untuk melihat rumah adatnya lebih dekat.

 

Ke’te Kesu

Jadi ceritanya saya datang ke Ke’te Kesu jam setengah 7 pagi karena belajar dari kesalahan kemarinnya. Kemarin sore kami sempat gagal kesini karena macet (iya di Toraja bisa juga macet). Begitu udah dekat Le’te Kesu, diliat dari jauh tempatnya udah keliatan rame banget. Akhirnya kita mampir ke kompleks rumah warga yang kita lewati ga jauh dari sana Tapi pertama cerita dulu tentang Ke’te Kesu ya.

Kalau bicara tempat yang wajib apa didatangi kalau datang ke Toraja, Ke’te Kesu pasti masuk ke dalam list-nya. Terletak di Toraja Utara, disini-lah kita bisa melihat rumah Tongkonan dalam bentuk kawasan desa adat. Ke’te Kesu merupakan kompleks rumah adat tertua di Toraja, yang umurnya bisa udah sampai ratusan tahun. Kini karena sudah menjadi desa adat, rumah-rumah di Ke’te Kesu sudah tidak berpenghuni. Namun pastinya rumah disini tetap dibangun dengan prinsip yang sama saja dengan rumah Tongkonan biasanya. 

Yang berjajar ditengah itu merupakan tanduk kerbau beneran yang dikurbankan dalam upacara adat Rambu Solo

 

Rumah Tongkonan ini selain cantik ternyata juga nyimpen banyak filosofi. Misalnya, tanduk kerbau yang berjajar di depan rumah ini asli diambil dari tanduk kerbau yang pernah dikurbankan oleh keluarga pemilik rumah dalam upacara adat Rambu Solo. Rambu Solo sendiri merupakan upacara penyempurnaan kematian. Dimana hanya dengan cara Rambu Solo, arwah yang meninggal dipercayai bisa mencapai kesempurnaan di alam sana. Beberapa prosesi ada yang menjadikan eksekusi kerbau menjadi salah satu persyaratan untuk dibuatkannya sebuah simbolis untuk jenazah, misalnya untuk pembuatan patung Tau-tau di kuburan jenazah ataupun menhir batu (Bakalan nulis tentang upacara ini di post selanjutnya!).

 

Jam 7 pagi di kompleks Ke’te Kesu, masih sepi

 

Kalau dilihat dari foto di atas, rumah yang di bagian kiri dan kanan yang saling berjajar itu beda modelnya, kan? Itu karena biasanya depan rumah Tongkonan ada rumah Lumbung yang berukuran lebih kecil. Kalau diperhatikan, Rumah Tongkonan selalu menghadap ke Utara, sementara Lumbung menghadap Tongkonan dalam arah yang berlawanan yakni Selatan. Kenapa Utara? Karena orang sana percaya bahwa Utara itu berarti simbol kebaikan. Selain itu, Timur dipercayai sebagai simbol kemakmuran, sementara Barat/Selatan itu diartikan sebagai simbol kematian.

 

 

 

Kuburan di Kompleks Halaman Ke’te Kesu

Cerita yang ada di Ke’te Kesu ga hanya ada di sampe depan aja. Harus juga coba untuk jalan ke belakang yang jaraknya hanya 10 menit dari kompleks rumah adat, disitu ada area makam yang “bentuk pemakamannya” bervariasi. Mulai dari Patane atau kuburan berbentuk rumah, kuburan gantung hingga kuburan goa. 

 

Patane yang ada kompleks makam Ke’te Kesu

Patane dengan Tau-tau keluarga yang dimakamkan

 

Patung atau Tau-tau jenazah disana sekarang dijaga baik-baik agar ga dicuri oleh turis. Katanya dulu pernah kejadian ada turis yang mengambil patung tersebut untuk dijual ke luar negeri. Ga kebayang kan apa rasanya jadi keluarga dari yang patungnya diambil? Patung itu merupakan kenang-kenangan terakhir bagi mereka tapi diambil begitu saja oleh orang lain, bahkan untuk diperjual belikan. Untuk bisa membuat patung pahatan pun mereka perlu mengadakan upacara adat terlebih dahulu.

 

Bisa sedeket ini aja loh sama tengkorak-tengkorak yang ga boleh dipindahin, hati-hati jangan kesenggol aja deh

 

Best time to come to Ke’te Kesu: Jam 7 pagi, sebelum rame. Itu pun pas kita pulang udah mulai rame orang. Maklum aja karena ini kawasan wisata, expect tempat ini untuk rame ya. Biasanya dikunjungi baik penduduk lokal maupun turis. Waktu itu sih explore selama 1,5 jam udah cukup.

 

Melihat lebih dekat dengan berkunjung ke rumah warga lokal

Kalau ini merupakan cerita sehari sebelum ke Ke’te Kesu, gara-gara disana lagi ramai, akhirnya kita mampir ke kompleks rumah warga yang kita lewati ga jauh dari Ke’te Kesu.

Saat itu kami traveling bareng temen yang asli sana, sehingga akhirnya dibantu untuk minta izin ke pemilik rumah. Ternyata pemilik rumahnya sangat ramah dan memperbolehkan kami untuk nongkrong sambil foto-foto. Dan ternyata, beliau merupakan seorang kepala suku. Berakhir dengan kita mendengar sedikit cerita dari beliau, ia bilang setiap ada warga Toraja yang mau melaksanakan upacara adat harus izin ke dia terlebih dahulu. Orang Toraja ramah-ramah kok asal tetap jaga sopan santun aja. Disini saya merasa lebih bisa melihat budaya-nya lebih dekat dan autentik, berbeda dari saat saya lihat dari tempat wisata umum.

 

Tanda ayam ini harapan keluarga untuk taat pada adat.

 

Beberapa rumah disini sedang masuk masa renovasi

Kalo diliat-liat warna rumah adat Toraja, atau bahasa kerennya color palette-nya sebenarnya gitu-gitu aja. Perpaduannya antara merah, kuning, putih dan hitam. Ternyata memang karena itu merupakan 4 warna dasar yang dimilikinya. Merah itu melambangkan darah manusia, yakni simbol kehidupan. Putih melambangkan “tulang manusia” yang juga tentang simbol kehidupan. Sementara kuning berarti lambang kemakmuran dan hitam itu lambang kesedihan. 

Kalau atap Toraja sih ga ada filosofi yang pasti, tapi banyak yang mengartikan nenek moyang disini terakhir itu kesini dengan perahu, sehingga rumahnya dibikin hingga bisa representasi perahu.

 

Itu kepala sapinya hanya patung, kok!

Kompleks perumahan warga. Autentik banget rasanya

 

 

Luxury Dinner with a view: Toraja Heritage Hotel

Bonus nih. Buat yang pengen jalan-jalan bertema luxury, bisa juga nginep di Toraja Heritage Hotel. Waktu itu saya numpang makan malem aja disana, ada all you can eat harganya Rp 100,000/orang. Kita makan malam di balkoni luar, lumayan pemandangannya view kolam renang dan Rumah Tongkonan buatan yang lightning-nya cantik dan ada live music juga. Menurut saya ini lokasi hotelnya juga strategis sih.

 

Best time to come: Kalau memang ga berniat untuk nginap, I can say I liked having dinner here. Cocok untuk menutup seharian penuh dengan nuansa yang lebih relaxing. Waktu itu mesti nunggu sampai sekitar jam 7 malam hingga buffet-nya buka.

 

Cheers,

Sabrina