Melihat Rambu Solo: Upacara Pemakaman di Toraja

Culture , South Sulawesi / December 12, 2017


Toraja terkenal akan kekayaan budayanya, terutama prosesi pemakamannya yang mempertahankan tradisi leluhur. Pemakamannya sendiri cukup mahal dan panjang dibanding prosesi adat pemakaman pada umumnya. Tapi beda halnya dengan wisata kuburan Toraja yang bisa kita datangi setiap saat, kesempatan untuk menyaksikan upacara adat di Toraja sebagai turis itu untung-untungan karena memang pelaksanaan acaranya bergantung dari pihak keluarga yang menyelenggarakan dan dapat berubah sewaktu-waktu. Di saat itu lah kita merasa beruntung karena dapat mengikuti salah satu prosesi rangkaian upacara adat Rambu Solo yakni saat kurban kerbau. Uniknya di acara ini jumlah kerbau dikurbankan ada hingga 24 ekor dengan biaya satu kerbau seharga ratusan juta hingga milyaran!

 

Di belakang ini ada rumah untuk meletakkan peti jenazah dan kumpulan kerbau yang mau dikurban

Karena ini acara untuk melayat, kami dianjurkan memakai baju hitam/baju warna gelap

 

Yap, sayang sekali saat itu kita hanya kedapatan prosesi yang dilaksanakan satu hari, yaitu Mantuan. Mantuan itu sendiri adalah prosesi yang dilaksanakan dua hari sebelum jenazah dimakamkan, yakni mengurbankan sejumlah kerbau. Konon, dipercaya bahwa kerbau-kerbau yang dikurbankan di upacara ini bisa mendampingi arwah jenazah dengan tenang. 

 

Apa itu Rambu Solo?

Mantuan ini merupakan bagian dari rangkaian upacara kematian yang dinamakan sebagai Rambu Solo. Rambu Solo sendiri merupakan upacara penyempurnaan kematian. Hanya dengan cara Rambu Solo lah arwah yang meninggal dipercayai bisa mencapai kesempurnaan di alam sana. Karena itu, tak heran jika keluarga yang ditinggalkan ingin menyiapkan upacara tersebut sebaik mungkin. Tapi memang karena biayanya tidak murah, bisa aja upacara ini diselenggarakan bertahun-tahun setelah kematian jenazah. 

Loh selama bertahun-tahun itu jenazahnya diapain dong? Biasanya jenazah diawetkan dan disimpan di rumah, dianggap layaknya keluarga yang masih sakit. Setiap hari di kasih makan dan kadang rokok. Culture shock much?

 

Patung jenazah yang ingin dimakamkan, tao-tao

 

Saat itu kita sebagai turis yang hadir untuk melihat upacara adat ini pun dipersilahkan bergabung dengan keluarga atau masyarakat untuk menikmati snack serta minuman teh dan kopi.

 

 

Tapi prosesi kurbannya juga gak asal laksanakan karena banyak banget persyaratannya. Pertama, kerbau yang dikurbankan lehernya harus ditebas dalam sekali ayunan. Kedua, bahkan saat memilih kerbau sang keluarga nggak asal beli kerbau yang ada aja, namun harus memperhatikan karakteristik kerbau seperti apa saja yang ingin dikurbankan. Misalnya, ekornya harus putih dan panjang, jika tidak sesuai persyaratan maka tidak bisa dihitung. Ketiga, bukan main, di acara yang saya hadiri, kerbau yang dikurbankan ada 24 ekor!

 

Adeknya menghayati banget

Pengarah jalan menuju acara prosesi

 

 

Konon semakin banyak kerbau yang dikorbankan, semakin cepat sang arwah menuju puya. Orang yang merupakan bangsawan atau berstatus tinggi akan mengurbankan lebih banyak hewan agar almarhum lebih cepat sampai tujuan Jangan salah, kerbau disini bisa sekelas mobil hingga milyaran. Jenis kerbau menentukan variasi harga seperti dari bentuk tanduknya, warna pola kulitnya, bahkan ekornya. Kerbau yang berwarna putih-hitam itu biasanya lebih mahal. Tedong Saleko – Kerbau putih dengan belang hitam, tanduk berwarna gading, dan bermata putih harganya bisa sampai 1,7 milyar!

 

 

Cara melihat Upacara Adat di Toraja

Banyak yang nanya, kok bisa sih datang ke Toraja pas ada upacara adat? Karena kebetulan saat di Toraja aku pergi bersama teman yang memang asli orang sana, sehingga dia tau jadwal pelaksanaannya kapan aja. Kalau kamu berencana datang ke Toraja dan mungkin pengen tau info-info acara ini, don’t hesitate to contact me through my email (sabrina.w.anggraini@gmail.com).

Memang rangkaian upacara adat Toraja tidak ada tanggal yang fix. Jadwal dari Rambu Solo bergantung dari pihak keluarga. Bahkan tadinya kita berencana untuk hadir dalam acara rangkaian prosesi lain, tapi ternyata acaranya dimajuin. Ya, namanya juga bertamu ya. Jadi kalo saranku, ke Toraja itu gabisa cepet-cepet kalo emang pengen ngerasain kearifan lokalnya. Luangkan sedikit waktu extra supaya bisa dapat lebih banyak kejutan disini!

Merah darah dimana-mana

Gerbang pintu masuk acara

Bukan hotel, bukan tempat penginapan turis, tapi ini asli rumah warga yang ditinggali. Cantik banget ya pemandangannya

 

Jadi ada alesan untuk balik lagi ke Toraja, deh! Semoga bisa balik lagi untuk melihat rangkaian upacara kematian Toraja yang lain 🙂

 

Cheers,

Sabrina Anggraini