My 2017 Best Nine Travel Stories That Gave Me Some Life Lessons

East Kalimantan , Indonesia , Personal Journal , South Sulawesi , United Kingdom , West Java / December 31, 2017


 
2017 merupakan tahun yang banyak naik dan turunnya. Banyak sekali tantangan, suka dan duka yang membuatku mempertanyakan banyak hal setiap harinya. 
 
Ditengah itu semua, traveling menjadi salah satu cara untuk membuat diriku tetap “waras”. Bukan, bukan untuk lari dari kenyataan, melainkan pergi untuk pulang membawa bekal. Baik itu dalam bentuk cerita, momen yang terekam dalam foto (pastinya!), perspektif dan ilmu baru, ataupun pengalaman yang pada akhirnya kita harap bisa membuat diri menjadi pribadi yang lebih baik.
 
Biasanya #BestNine photos setiap tahun dilihat dari jumlah likes tertinggi di akun Instagram kita pada tahun itu. Namun dibanding memilih sekedar dari jumlah likes, aku memilih untuk merangkum beberapa momen traveling yang memiliki cerita unik tersendiri dibelakangnya. Agak susah untuk akhirnya memilih hingga sembilan aja, karena banyak sekali momen yang berharga tahun ini. Namun inilah beberapa cerita dari #2017BestNine.
 

1. Cara unik untuk merasakan Stadion Old Trafford Manchester United

Aku tidak menyangka aku bisa balik ke UK lagi secepat ini. Pertengahan 2017, aku dan timku mendapat kehormatan untuk menjadi finalis lomba UX yang diadakan klub football Manchester United. And we got free tickets to Manchester! Horray!
 
Ikut kompetisi ini juga bukan suatu yang direncakan dari awal. Rasanya kayak mahasiswa lagi. Disini aku memutuskan untuk ikut tim karena topik yang sesuai dengan bidang pekerjaanku di UX, jadi tidak ada ruginya kalaupun kalah. Berawal dari ikut tahap seleksi online bareng tim sambilkumpul di basement food court salah satu gedung di Slipi untuk ngerjain karena kebetulan kantor kita berdekatan, lolos beberapa tahap online sampai tau-tau kita lolos jadi finalis. Dan yang ga kita sangka, saat final di Old Trafford kita bisa dapet juara dua. Cuma bisa bersyukur akan kejutan-kejutan kecil dalam hidup.
 
Pengalaman ini mengajariku untuk embrace the random opportunities that ticks you, for as long as it aligns with yourself. Karena pengalaman ini aku juga jadi bisa mencentang beberapa bucketlist-ku di UK yang kuceritakan di poin nomor dua.
 
Lihat disini tulisan mengenai apa saja yang bisa kamu lakukan di Old Trafford:

5 Things You Can Do in Old Trafford Stadium When You’re Not Watching a Match

 
 

2. Solo Travel di UK

Walaupun sudah ada rencana sebelumnya, aku akhirnya baru memantapkan diri untuk extend ketika aku di Manchester. Disana aku baru beli tiket pulang dari London untuk minggu depan agar bisa Solo Travel di United Kingdom.
  
Setelah di Manchester untuk ikut kegiatan lomba, aku melanjutkan perjalanan ke kota Liverpool, Edinburgh dan London selama total 2 minggu. Masing-masing kota memiliki ciri khasnya. Favoritku adalah Edinburgh, ibukota Skotlandia yang memiliki arsitektur klasik nan cantik. 
 
Kalau ditanya orang negara luar yang paling aku suka dari dulu, jawabannya pasti UK. Dan ga pernah sebelumnya kebayang aku bisa pergi kesini atas usaha sendiri. Memang tiada hasil yang mengkhianati usaha. 
 
Ini merupakan pengalaman Solo Travel pertama buatku, dimana disini aku benar-benar menggunakan waktu untuk mengenal lebih diri sendiri. Aku bisa memilih untuk mempunyai percakapan kecil dengan orang asing, atau bisa memilih untuk tenggelam dalam pikiranku sendiri. Tidak sepenuhnya sendiri di setiap kota, aku juga berterima kasih untuk teman-teman di tiap kota yang jadi teman jalan-jalan juga. 
 
Lihat beberapa cerita di Manchester, Liverpool, Edinburgh dan London disini: 

Solo Trip di UK

 
 

3. Mengajak travelers jelajah Jakarta dan berinteraksi dengan Local Community di trip Kultara 

 

 
Ga cuma mau traveling aja, tapi kita pengen coba ajak orang2 untuk merasakan hal yang sama. Aku, bareng teman-temanku merintis Kultara atau Kultur Nusantara. Misi kita adalah mengajak travelers jalan-jalan ke tempat wisata cantik dari komunitas lokal yang jarang terangkat.
 
Disini aku mau menuliskan tentang trip pertama kita “Explore Jakarta: Face of Maritime Edition” yang bermaksud memperkenalkan cerita sejarah maritim di Jakarta di Museum Bahari Kampung Krapu, Tongkol dan Lodan. Kampung yang kita datangi merupakan kampung yang terletak tepat di sebelah Kali Ciliwung, sehingga dulu hampir digusur. Mengantisipasi penggusuran, warga kampung Tongkol, Krapu, dan Lodan tidak putus harapan. Mereka akhirnya bergerak bersama untuk memperbaiki kampung mereka, mulai dari pembersihan sampah, penataan ruang, dan lain-lain. 
 
Maka dari itu selain walking tour dipandu warga lokal di kampung, salah satu kegiatan kita disana adalah bikin DIY planting untuk mendukung urban farming. Akhirnya tanaman itu dipajang di pintu masuk Kampung yang tadinya merupakan bekas warung terbakar jadi lebih cantik. 
 
Disini aku belajar esensi dari membuat sesuatu yang indah dari sesuatu di sekitar kita yan g mungkin tidak kita sadari sebelumnya. Interaksi travelers dengan masyarakat lokal juga menjadi sesuatu yang berharga. Dan yang paling penting, aku sangat berterima kasih kepada tim Kultara yang luar biasa mau menjalankan misi ini bersama-sama!
 

Tunggu kabar trip 2018 selanjutnya di Instagram @kultara_!

 

 

4. Melihat kekayaan budaya dan upacara kematian di Toraja

Pergi ke Toraja bikin aku sadar akan betapa banyaknya kekayaan budaya Indonesia. Disini kita bisa lihat banyak sekali bentuk identitas mereka yang unik mulai dari  rumah adat Tongkonan, wisata kuburan di Tana Toraja, hingga nuansa pegunungan dan kuburan batu Toraja Utara. Ga cuma itu, kita bisa coba intip kehidupan para masyarakat lokal. Dimana saat itu aku mendapat kesempatan melihat salah satu prosesi upacara adat Rambu Solo.
 
Pengalaman disini membuat kita melihat betapa masyarakat sangat menghormati mereka yang sudah meninggal dunia. Budaya pun bisa berbentuk sesuatu yang bagi kita tidak biasa. Pada akhirnya dunia ini penuh dengan orang-orang dan mindset nya masing-masing, maka sifat menghargai jadi sesuatu yang penting.
 
Lihat cerita lengkap mengenai Toraja disini:

Mengenal Tongkonan, Rumah Adat Toraja

Wisata Kubur Batu di Tana Toraja: Lemo dan Londa

Melihat Rambu Solo: Upacara Pemakaman di Toraja

 

 

5. Keindahan alam yang sederhana di Ranu Kumbolo

Kalau tadi bahas tentang budaya, mampir ke Ranu Kumbolo ini bikin semakin kagum dengan kekayaan alam Indonesia! Saat ini kita mampir dalam rangka shooting video Pesona Indonesia oleh Kementrian Pariwisata untuk daerah wisata Jawa Timur. Kami mengambil gambar di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang diawali dengan daerah Gunung Bromo, dilanjutkan dengan hiking ke Gunung Semeru sampai Ranu Kumbolo saja. Saat itu di Ranu Kumbolo pun kita menghabiskan waktu selama 2D1N sambil camping
 
Disini aku sadar betapa alam bisa memberikan kebahagiaan sederhana. Kamu benar-benar bisa menikmati momenmu tanpa gadget karena sinyal yang terbatas. Banyak hal yang memang hanya tersimpan dalam benak memori. Aku memang bukan anak yang sering naik gunung, tapi selalu pengen explore alam negeri kita. Mumpung tinggal di Indonesia, yang kekayaan alamnya tumpeh-tumpeh.
 
 

6. Lautan biru di Kepulauan Derawan

Kalau tadi bicara budaya, gunung, sekarang giliran laut! Kalau kamu pengen pergi ke tempat yang ga dekat tapi ga terlalu jauh dari Jakarta, mungkin salah satu jawabannya adalah Kalimantan. Kepulauan Derawan yang aku maksud disini bukan hanya Pulau Derawan, melainkan juga Maratua, Kakaban dan Sangalaki. 
 
Kamu bisa berenang sama stingless jellyfish di Kakaban. Saat berenang bersama ubur-ubur tersebut aku melihat banyak sekali turis yang mainin mereka. Mungkin dari luar mereka terlihat, namun bisa aja kulit mereka yang tipis itu sebenarnya terluka dan pada akhirnya mengancam nyawa mereka. Selain itu kamu bisa liat penangkaran penyu di Sangalaki. Melihat penangkaran penyu yang gemes itu bikin aku salut dengan warga lokal yang bersedia merawat mereka.
 
Kunjungan ke Kepulauan Derawan ini mengajarkanku untuk respect dan sebisa mungkin ikut menjaga ekosistem yang ada di alam, minimal se-sederhana tidak merusak aja. Karena kita tinggal bersama makhluk hidup berhak untuk hidup dengan baik, dan sungguh menyedihkan jika melihat mereka menderita karena kelalaian manusia.
 
 
Lihat keindahan lautan Kepulauan Derawan yang aku maksud disini: 

Island Hopping in Derawan: Maratua – Kakaban – Sangalaki

 

 

7. Perjalanan panjang melalui hutan demi Labuan Cermin 

Cerita perjuangan kesini lumayan membekas bagiku. Saat itu aku berdua temanku Viny kesini saat low season, alhasil kita kekurangan rombongan minimal untuk bisa ikut open trip ke Labuan Cermin. Karena gamau rugi, akhirnya kita berdua setuju untuk merental mobil dan supir, lalu tetap cuss kesana!
 
Medan ke Labuan Cermin tidaklah mudah. Dari kota Berau, kita harus melakukan perjalanan darat selama 7-8 jam melewati hutan! Sempet loh, di tengah jalan rasanya deg-deg an melihat kiri-kanan. Tapi syukurlah kita berhasil sampai di kota Biduk-biduk dengan selamat. Banyak bonus pantai yang indah yang kita temui sepanjang jalan di Biduk-biduk.
 
Hal ini membuktikan bahwa kadang kita perlu sedikit take risk (atau lebih tepatnya, calculated risk lah ya! haha), karena banyak kejutan menanti setelah itu.
 
Lihat lagi suasana tempat cantik tersebut disini:

Labuan Cermin: Crystal Clear Two-Flavor Lake

 
 

8. Destinasi alam menarik Sukabumi yang tidak jauh dari Jakarta

 
Kadang kita ga perlu pejauh-jauh dari Jakarta untuk kabur dari hiruk pikuk kota, karena banyak lho daerah menarik sekitar Jakarta yang jarang ter-expose. Salah satunya adalah Daerah Danau Situ Gunung dan Curug Sawer. Danau Situ Gunung ini masuk daerah Taman Nasional Gunung Gede. Disana kita keliling danau naik getek dari penduduk setempat. Bahkan pulang dari sinilah aku baru tau kalau tempat ini pernah masuk ke majalah National Geographic. Ga jauh dari situ situ ada lagi Curug Sawer, air terjun segar yang dapat diakses setelah trekking kurang lebih sejam.
 
Mungkin ini mengingatkan bahwa kadang kita ga perlu pergi terlalu jauh untuk mencari kebahagiaan, tapi di sebenarnya di sekitar kita sudah ada, tapi kitanya aja yang ga sadar. *cieelah*
 
Aku pernah membuat tulisan tentang cara menuju kesini dari Jakarta:

A Refreshing Getaway: Situ Gunung Lake & Curug Sawer

 

 

9. Almost cried at V&A Museum while visiting London Design Festival 

Kalau yang ini kayaknya aku aja deh yang bisa seseneng ini…. lol! Kebetulan kedatanganku di London saat solo travel bertepatan dengan 2017 London Design Festival yang instalasinya tersebar di berbagai titik di kota London, salah satu venue utamanya adalah Victoria & Albert Museum.
 
Ini pertama kalinya aku masuk ke museum dan pengen nangis. Alasannya karena museum ini lengkap dengan hal-hal yang bagiku epic banget dan aku kira tidak akan ada orang yang kepikiran untuk menyimpan sejarahnya. V&A Museum merupakan museum arts and design terbesar di dunia. Disana ada koleksi kultur seluruh dunia, yang terlalu banyak isinya sampai aku sendiri bingung. Yang paling menarik bagiku adalah bagian sejarah fashion dari abad ke abad serta bagian teater dan film (mulai dari maket desain panggung, kostum, artefak teater jaman dulu). Lalu ada eksibisi Asia (dari South & East Asia hingga Islamic art), skluptur jaman romawi, galeri barang antik British (seperti cangkir teh), buku, lukisan, dan masih banyak lagi. Menurutku butuh waktu beberapa hari untuk benar-benar melihat setiap sudut dari museum ini. I promised myselfI will be back!
 
Karya dari para artist dan creators dari seluruh dunia ini sangat menginspirasi untuk tidak berhenti mengekspresikan diri dengan berkarya, mau orang lain mengapresiasinya ataupun tidak. Ini juga mengajariku untuk selalu berikan meaning dibalik art ataupun design yang kamu buat sehingga karyanya bisa menjawab purpose awalnya.
 
P.S – Pulang dari sini, kaki langsung kapalan men.
 
 
 
 
Itulah sembilan travel moments-ku di 2017 yang memberikan perspektif baru dan pelajaran tersendiri bagiku dimana aku cukup menikmati proses ini. Walaupun banyak tantangan di belakang layar, hasil akhirnya tidak akan terasa sedap tanpa bumbu. It’s all about the journey, not just the destination. Bagaimana dengan tahun depan ya? Pastinya aku berharap bisa menjadi tahun yang lebih positif lagi.
 
Pada akhirnya manusia bisa berencana, namun rencana dari Tuhan pasti akan selalu lebih baik bukan?
  
See you next year!
 
 
Cheers,
Sabrina Anggraini