Desa Adat Takpala: Keunikan Di Balik Kampung Tradisional Pesisir Alor

Culture , East Nusa Tenggara , Indonesia , Local Experience , Travel Guide / January 10, 2018


Berpose ala Suku Abui di Desa Adat Takpala, Alor Tengah Utara

 
Kali ini aku ingin sedikit bernostalgia tentang cerita Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampusku dulu, yaitu UGM. Saat itu, aku mendapat kesempatan untuk melaksanakan KKN di Alor, Nusa Tenggara Timur untuk tinggal disana selama dua bulan bersama 22 teman unitku yang lain di salah satu desa yang terletak di Alor Barat Laut. Selama dua bulan, kami melakukan kewajiban untuk melaksanakan program kerja di berbagai bidang, termasuk perikanan, pertanian serta pariwisata.
 
Diluar jam kerja KKN, kami suka menyempatkan waktu buat explore pulau Alor. Gak mau dong menyia-nyiakan kesempatan jarang untuk bisa berada di salah satu pulau paling Timur di Indonesia. Ternyata di Alor gak cuma alam bawah lautnya yang mempesona, tetapi juga kebudayaannya.
 
Salah satu tempat yang berkesan buat aku adalah Desa Adat Takpala, sebuah kampung adat yang terletak di kaki gunung daerah Alor Tengah Utara.
 

Perjalanan Menuju Desa Adat Takpala

Kami melakukan perjalanan dari Alor Kecil menuju Alor Besar. Kurang lebih 30 menit lamanya waktu yang ditempuh dari pusat kota Kalabahi hingga Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara. Selama perjalanan, pemandangan pesisir pantai yang lautnya sangat biru menyapa dari luar jendela. Perjalanan makin lengkap karena kami naik Oto—nama kendaraan umum di Alor—dimana bentuknya mirip seperti truk yang terbuka sehingga angin sepoy-sepoy berhasil bikin kebanyakan dari kami tidur selama perjalanan. Setelah melewati pantai, kendaraanmu akan perlu sedikit menanjak kaki gunung menuju Desa Lembur Barat.
 

Teman-teman tertidur pulas

 

Pemandangan lautan dari kaki desa

 

Begitu sampai kaki desa, santai dulu di Oto sebelum menanjak

 

Sambutan tamu di Desa Adat Takpala 

Sesampainya di kaki desa, kami melanjutkan perjalanan ke desa dengan berjalan kaki. Sambutan hangat oleh penduduk sekitar menyapa kami di Takpala. Tanpa segan, kami dipersilahkan untuk duduk di area tamu salah satu rumah adatnya. Seorang pemandu lokal yang tinggal di Desa Takpala mulai bercerita tentang latar belakang Desa Takpala, yang dipandu langsung oleh 
 
Dulunya area Desa Takpala adalah hutan. Suku yang mendiami daerah sini dikenal sebagai Suku Abui, yang artinya orang gunung. Jika kamu sudah merencanakan kunjunganmu dari jauh-jauh hari, kamu dapat di sambut dengan tarian Lego-lego oleh warga lokal (info tentang biaya dan Contact Person ada di bagian bawah post ini).
 
 
Selain itu kita bisa merasakan langsung suasana salah satu rumah tradisionalnya yang menurutku canggih“, kenapa canggih? Walaupun rumah berlantai empat tersebut hanya dibuat dari jalinan bambu, ia bisa menampung hingga 13 kepala keluarga yang didalamnya juga sudah termasuk dapur, tempat tidur dan tempat bertamu! 
 
Lantai 1 digunakan sebagai tempat menerima tamu, lantai 2 untuk ruang tidur dan masak, lantai 3 tempat penyimpanan banyak hal seperti cadangan makanan, dan lantai 4 untuk menyimpan barang-barang adat seperti moko, senjata ataupun barang antik lainnya. Pokoknya lantai paling atas itu menjadi tempat yang paling suci bagi leluhur.
 
Canggihnya, semua itu ditampung dalam satu rumah yang hanya terbuat dari bambu. Kebayang kan gimana mahirnya orang jaman dulu dalam membuat bangunan?
 

Naik tangga ke lantai 2 rumah adat

 
 

Welcoming sign Desa Adat Takpala

 

Mengenakan Baju Adat Takpala

Sebagai tamu, kita diberi kesempatan untuk mengenakan pakaian adat Suku Abui di Desa Takpala. Baju adatnya membuat kami merasa seperti suku pegunungan yang sesungguhnya! Gimana enggak, atribut pria saja dilengkapi oleh panah yang fungsinya biasa dipakai untuk berperang ataupun berburu. Sementara wanita mengenakan atribut berupa balutan tenun Alor yang terlihat premium dan gelang kaki yang menyuarakan gemerincing di tiap hentakkan. 
 
Pemandu kami pun menjelaskan gimana caranya memeragakan bagaimana seorang pria Suku Abui menggunakan panah dalam kesehariannya. Singkat cerita, para laki-laki diajarin cara berpose dengan gaya memanah. Ada juga topi unik yang terbuat dari bulu ayam.
 
 
 
 
 
 
 

Topi dari bulu ayam

 
 

Kerjainan Tenun dan Aksesoris dari Wanita Suku Abui

Kalau para pria sibuk berkebun, para wanita suku Abui juga rajin menenun dan membuat barang-barang kerajinan cantik. Tenun dan kerajnan tersebut kebanyakan digunakan untuk acara adat, namun ada juga yang dijual untuk turis.
 
 
 
 
 

 

Melihat Kompleks Rumah Adat Takpala

 

 
Selain rumah berlantai empat yang diperlihatkan saat pertama kali tiba, ada juga sederetan rumah panggung yang bentuknya seperti piramida.
  
Rumah-rumah adat Suku Abui di Takpala didirikan dalam posisi menghadap ke sebuah ruang bersama yang disebut Mesang. Mesang adalah tempat berkumpulnya seluruh warga Suku Abui. Lalu didalamnya ada yang namanya Mesbah, berupa tiga batu susun yang disucikan oleh Suku Abui. Kalau kamu sudah mempersiapkan kedatanganmu dari jauh-jauh hari, masyarakat biasanya melakukan tarian Lego-Lego untuk menyambut tamu sambil mengelilingi Mesbah. 
 
Lalu ada juga 2 rumah keramat berdinding disebut Kolwat dan kanuarwat. Namun bedanya hanya orang-orang tertentu pada saat-saat tertentu sajalah yang boleh memasukinya. 
 
 
Notes:*
  • Harga sewa baju adat Takpala adalah Rp 50.000/baju. 
  • Kamu bisa melihat Tari Lego-lego sebagai kegiatan penyambutan tamu dari suku Takpala. Kamu dapat menghubungi Dinas Pariwisata Alor untuk dibantu agar warga Takpala mempersiapkan suguhan tari Lego-lego. Contact Person yang dapat dihubungi hususnya Pak Aminudin Mira melalui nomor +6282145888385 atau email di disbudpar-alor@yahoo.co.id.
  • Biaya Tari Lego-lego kurang lebih Rp. 1.500.000 untuk setiap kedatangan. 

*Harga per Desember 2017

 

Cheers,
Sabrina Anggraini