Pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho: Potret Savana Pasca Kebakaran Hutan

Central Java , Hiking , Indonesia / October 5, 2018


Savana yang dikelilingi rumput gosong berwarna hitam

 

Awal September lalu, kami mendapatkan informasi mengenai kebakaran hutan yang melanda Gunung Lawu—sebuah gunung yang sudah lama kudengar namanya, namun belum pernah ada kesempatan (ataupun keberanian) untuk mendakinya.  Alhasil, kami yang awalnya berencana mendaki gunung yang terkenal mistis ini sempat mengurungkan niat.

 

 

Sampai pada hari H keberangkatan menuju Solo, kami mendapatkan kabar bahwa jalur pendakian Gunung Lawu sudah dibuka kembali. Keputusan dadakan pun baru ditentukan saat kita di kereta yang tadinya mau mendaki merbabu, kita “putar balik” ke rencana awal yaitu naik Gunung Lawu! Lol! 

 

Diantara awan yang berada di gunung

 

Savana Gunung Lawu Pasca Kebakaran

Pada bulan September lalu, berita dihebohkan dengan kebakaran hutan yang melanda Gunung Lawu. Api ini pun sempat meluas ke daerah Ngawi dan Karanganyar, hingga mendekati pemukiman. Untungnya api tersebut berhasil dipadamkan secepat mungkin.

Jam 5 pagi kami memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan mengeksplor daerah Savana ini. Disini kami melihat langsung dampak kebakaran hutan tersebut ke Savana-nya yang bisa kamu temui kalau kamu mendaki Lawu via Candi Cetho. Savana ini dikenal sebagai salah satu pemandangan savana yang cantik di gunung yang berada di Pulau Jawa.

 

Meski begitu, kami merasakan “sensasi berbeda” melihat hasil kebakaran hutan ini. Memang sih, sebagian besar perjalanan yang kita lewati di dominasi sama rumput yang udah gosong. Tetapi, di sisi lain, masih ada nuansa asri yang tetap bisa membuat kami merasakan indahnya panorama dengan view pegunungan.

 

Lupa iket tali sepatu

Rumput-rumput yang masih terlihat gosong

 

Sebagai “pendaki pemula”, ternyata jalur Candi Cetho ini merupakan jalur yang terbilang cukup ekstrim. 2 hari 1 malam pun kita gunakan untuk mendaki gunung ini. Nah inilah kira-kira perjalanan kami lewati; 

 

Gunung Lawu via Jalur Candi Ceto

 

Kita mengawali perjalanan dengan berangkat jam 9 pagi. Total waktu tempuh kalau naiknya santai dan lambat sih sekitar 8 jam. Sepanjang jalan dari base camp menuju Pos 1, kamu akan melewati Candi Cetho, Puri Saraswati, dan Candi Kethek serta potret persawahan masyarakat lokal sebelum memulai jalur pendakian yang sebenarnya. Candi Ceto merupakan candi bercorak agama Hindu yang dibangun pada masa-masa akhir era Majapahit. Lokasi candi pun berada di lereng gunung pada ketinggian 1496 mdpl. 

 

Pos 1 – Pos 2

Jarak tempuh menuju pos 2 kurang lebih 1 jam.

 

Pos 2 – Pos 3

Jarak tempuh menuju pos 2 kurang lebih sama, yakni sekitar 1,5 jam

Sebelum pos 3, kamu akan menemukan sumber air. Pos sumber air tersebut pun kami gunakan untuk makan siang. Jarak antara sumber air menuju pos 3 kurang lebih hanya 15 menit. Airnya juga seger banget! Kami pun mengambil break makan siang di sumber mata air ini.

Kalau udah di gunung, makan apa aja jadi enak! Nasi telor yang kita bawa dari warung basecamp.

Sumber Air dekat pos 3

 

Pos 3 – Pos 4

Disinilah ketika mental kita sudah mulai di uji karena perjalanan mulai melelahkan! Pos 3 ke 4 merupakan pos yang paling berat karena banyak sekali tanjakan terjal! Jarang banget kita dapat bonus dataran landai. Saking beratnya, waktu jadi terasa lama! Waktu yang kamu habiskan bisa kurang lebih 2-3 jam tergantung kecepatan. Disinilah momen dimana keyakinan kita di uji. 

 

I was pushed beyond my limits.

 

Pos 4 – Pos 5

Nah, dari pos 4 ke pos 5 baru lumayan banyak dataran landai. Saat kami mendaki dari pos ini pun, waktu sudah menunjukkan sore dan menjelang Golden Sunset, sehingga cahaya matahari emasnya sangat cantik. Padang savana pun sudah mulai terlihat dari jauh, memberi kode bagi kita untuk nggak menyerah. Waktu yang ditempuh di pos ini kurang lebih 1-2 jam.

Saat kita sudah mulai dekat sama pos 5 dan mau ke savana, kita akan mendaki tanjakan yang cukup terjal dimana sebelahnya langsung jurang, jadi mesti hati-hati nih disini. 

 

Suasana cahaya golden sunset

Perjalanan menuju Pos 5 yang mesti hati-hati karena jurangnya

 

Pos 5

Begitu sampai di pos 5, kami pun ngecamp di lapangan sebelum pos 5, karena katanya disitu anginnya lebih bersahabat. Hari sudah gelap dan bisa langsung bagi tugas untuk pasang tenda ataupun masak.

Nah tadinya kita mau summit attack jam 3 pagi, tapi karena dikejar kereta yang berangkat jam 7 malem (ditambah lagi ternyata nggak bangun juga paginya), alhasil kami gagal summit attack karena waktunya nggak cukup. Karena summit attack membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam ke puncak dari Pos 5 + ditambah  waktu untuk menikmati view puncak + waktu turun 3 jam lagi. Alhasil, akhirnya waktunya digunakan  untuk mengeksplor hamparan savana yang mengelilingi tenda kita.

 

 

 

Gupakan Menjangan

 

Ketika pergi menelusuri savana, kamu akan menemukan spot Gupakan Menjangan, dimana kalau ngecamp disana view nya langsung panorama dengan savana dan puncak Gunung Lawu. Akan tetapi katanya angin disana cukup sadis sih ketika malam hari. Namun di pagi hari, bayangin aja bangun tidur dengan view pegunungan yang keren dapat pemandangan super kece.

 

Kurang lebih view yang bisa kamu lihat dari spot Gupatan Menjangan

Nikmatnya indomie kalau lagi naik gunung. Walaupun berubah sedikit jadi indomie rasa debu

 

 

 

How to Get There

Stasiun Solo Jebres – Basecamp Cetho Gunung Lawu

  • Kami tiba di Stasiun Solo Jebres pada jam 3 pagi, lalu di jemput oleh Pak Toyo oleh mobil pick-up nya. Kamu bisa hubungi pak @pakdetoyo73 untuk informasi lebih lanjut mengenai pick-up menuju Gunung Lawu, Merbabu, Merapi dan Andong, bisa start dari Solo, Jogja, Semarang, Boyolali.
  • Perjalanan dari Stasiun Solo Jebres ke Basecamp Cetho Gunung Lawu sekitar 2 jam.
  • Basecamp ini pun terletak di kawasan Ngargoyoso, Karanganyar dengan melewati perkebunan teh Kemuning yang hijau. Di basecamp, terdapat fasilitas kamar mandi, warung makanan, dan sewa peralatan outdoor. Bisa sarapan dulu di basecamp, sambil bungkus makanan dari warung untuk makan siang di pendakian hari itu. Saya pun sarapan nasi bungkus dan tes hangat seharga Rp 9,000 dan menyewa head lamp disana dengan biaya Rp 8,000. 

 

Cheers,

Sabrina Anggraini