My 2018 Best Nine Travel Stories That Gave Me Some Life Lessons

Personal Journal / January 1, 2019


 
Nggak terasa, tiba-tiba udah masuk 2019 aja.
 
Sadar nggak sih, waktu selalu terasa cepat dari tahun ke tahun? Dalam seminggu pun, seringkali aku merasa tau-tau udah hari jumat aja. 
 
Mau kita diam ataupun tidak, waktu pasti terus berjalan. Dan pada akhirnya hanya memori lah yang akan kita tinggalkan.
 
Sama seperti di akhir tahun 2017 saat mau masuk tahun 2018, kali ini aku mau pilih #BestNine Travel Stories tahun 2018 yang tentunya memberikan aku perjalanan hidup berharga! Dan mudah-mudahan juga bisa bermanfaat kalau di share.
 
 
Inilah beberapa petualang terpilih yang aku lalui di 2018, yang bagiku meninggalkan beberapa pelajaran menarik.
 

1. Mimpi gila petualangan di Iceland ala Walter Mitty jadi kenyataan

“Luck is when preparation meets opportunity.”
 
 

Travel journal yang kubuat sambil traveling

 
Awal bikin resolusi 2018, nggak pernah pintas di benakku buat nulis “Iceland” sebagai destinasi yang mau (ataupun bisa) aku datengin di tahun 2018. 
 
Setiap tahun aku memang alokasi tabungan buat “Big Trip” yang sifatnya lama, jauh, dan nggak nanggung-nanggung. Kalau tahun 2017 aku dapat kesempatan Solo Travel di UK, yang juga sebuah kejutan tersendiri, karena hasil extend lomba di Manchester yang nggak disangka-sangka.
 

Iceland Summer Road Trip crew

 
Di 2018, aku nggak netapin goal mau kemana. Nggak ada bayangan.
 
Sampai bulan Februari tau-tau dapet info kalau Finn Air lagi promo ke Iceland. Bikin galau banget, karena itu merupakan keputusan besar karena uang yang diperlukan tentunya nggak sedikit.
 
Dan akhirnya aku alokasi tabungan “Big Trip” ku untuk Iceland. Walau harus extra nabung lebih. karena biaya buat ke Iceland juga nggak main-main, akhirnya itu semua jadi kenyataan!
 
Tahun ini aku nggak nyangka bisa summer road trip di Iceland, negara yang aku selalu impikan. Petualangan ini pun ngajarin banyak tentang survival skill di tempat dingin, indahnya bumi ini, dan gimana kita nggak boleh berhenti mimpi.
 
 
 
 
Dan sekarang aku masih akan taro negara ini di bucketlist ku, karena 10 hari aja nggak cukup buat explore tempat itu. Setelah ngeliat Iceland langsung, jadi pengen banget ngerasain hiking glacier es, hiking gunung, ataupun dateng saat musim dingin!

 

 
Lessons learned from this travel experience:
  • Luck is when preparation meets opportunity. Karena aku sudah menabung terencana setiap tahunnya, begitu ada kesempatan promo tiket, aku sudah lebih siap.
  • Nggak pernah salah untuk kita bermimpi tinggi-tinggi. Dulu Iceland merupakan destinasi yang terasa jauh banget buatku, kayak unreachable. Aku percaya kalau prinsip ini bisa diaplikasikan ke aspek kehidupan yang lain.
  • It’s always nice to be surprised! Dan ini bikin aku makin excited untuk tahun depan, karena kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi.

    Toh, manusia juga bisa berencana, tapi Tuhan yang akhirnya menentukan.

     

     

    Lihat disini tulisan panduan dan itinerary ku selama di Iceland:

Road Trip Keliling Iceland + Camping: Itinerary 7 Hari

Panduan Road Trip dan Camping Keliling Iceland Selama 7 Hari (On Budget)

 

  

2. Merayakan Hari Tani Bersama Wanita Tani Hebat dan Warga Kampung Bekelir, Tangerang

“Culture makes people understand each other better.” Paulo Coelho
 

Bersama ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Terong

 
 
Dalam rangka merayakan hari tani, Crowde dan Kultara kolaborasi buat bikin kegiatan Travel with Purpose ke Kampung Bekelir, Tangerang. 
 
Kenapa Kampung Bekelir? Karena kampung ini pun juga punya cerita menarik, yang dulunya kumuh sekarang di “sulap” menjadi kampung warna warni yang sekarang jadi tempat wisata. Muralnya nggak main-main, dibuat oleh seniman.
 
Selain itu, disana juga sedang menerampkan inisiatif urban farming, sebagai bentuk penghijauan di tengah kota.
 
Terakhir, kita juga ketemu sama para Kelompok Wanita Tani (KWT) pada tepatnya KWT Terong Tangerang, dimana para wanita hebat ini sharing gimana mereka melakukan urban farming di tengah Kota Tangerang. 
 
 
 
Lessons learned from this travel experience:
  • Bertemu wanita hebat KWT mengingatkanku tentang bagaimana wanita pun bisa terus produktif walaupun mengemban tugas menjadi ibu rumah tangga. Di agenda Farmers Market dalam trip ini, teman-teman Wanita Tani Terong jualan hasil kerja mereka seperti tanaman keripik, sampai boneka terong. Seneng banget ngeliat antusias teman-teman pas beli barang-barangnya.
  • Banyak sekali inisiatif ramah lingkungan yang kita bisa lakukan bahkan dari tengah kota seperti yang kita pelajarin disini.
  • Dan juga banyak sudut kota yang punya nilai cerita mendalam, tapi kita nggak tau. Makanya cek @kultara_ untuk info trip berikutnya!

 

 

Lihat di sini sedikit cerita kunjungan kami di Kampung Bekelir:

Rayakan Hari Tani Nasional, CROWDE dan Kultara kunjungi Kota Tangerang

 

3. Strolling around Singapore with the crew

“Sometimes, it’s not where you to travel to, it’s who you travel with.”

Depan air terjun ikonik Gardens By the Bay

 
 
Di bulan Maret, aku pergi bareng para teman-teman kuliah ke Singapura.
 
Oke, mungkin Singapore negara tetangga kita yang dekat. Tapi karena pergi bareng temen-temen deket dan seperjuangan dulu, perjalanan dipenuhin dengan ketawa terus. Jalan-jalan yang cuma 3 hari berasa jadi kayak seminggu! 
 
Teman traveling nggak kalah penting, atau bahkan menurutku, lebih penting dibandingkan destinasi itu sendiri.
  
Dan walaupun destinasi Singapura memang sudah terkenal, dan mungkin terlihat hanya sebatas wisata perkotaan, selalu ada cara baru buat nikmatin suatu kota. Misalnya saat kita mencoba aktivitias yang bisa dibilang baru juga biar kayak warga lokal, kayak nyobain lari pagi di Marina Bay Sands. Disana kita bisa melihat sunrise yang cantik banget dengan pemandangan Marina Bay Sands. 
 
 
Lessons learned from this travel experience:
 
Like the previous statement—sometimes, it’s not where you to travel to, it’s who you travel with!

 

Lihat di sini cerita perjalanan kita di Singapore:

Beautiful Sunrise During Our Morning Run at Marina Bay Sands

Budget Friendly Accommodation: 5footway.inn Project Boat Quay Review

Singapore Street Art: Haji Lane, Kampong Glam & Arab Street

4 Best Budget Eats You Must Try in Singapore

Gardens by the Bay: Cloud Forest & Flower Dome

 

 

4. Workshop Batik & Pottery Kultara

“A people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots.” Marcus Garvey 

 

Salah satu kegiatan baru yang @kultara_ inisiasikan tahun ini adalah mini workshop, dimana kita gunain Minggu pagi kita buat belajar kebudayaan Indonesia lewat kegiatan praktek yang seru. Belajar hal baru, ketemu teman-teman baru, dan mengenal salah satu spot taman terbuka di Jakarta.
 
Ada yang dateng bareng keluarga, teman, hingga pacar! 
 
 
 
 
Lessons learned from this travel experience:
  • Walaupun batik itu salah satu aset budaya yang bisa dibilang udah terkenal, tapi nggak banyak yang tau cerita, filosofinya, apalagi cara pembuatannya! Dan ternyata itu seru banget. 
  • Batik dan keramik tentu masih satu dari sekian banyak. Jadi penasaran buat explore kebudayaan Indonesia yang lain.

 

5. Menghabiskan weekend di sebuah desa daerah Lebak, Banten

“It’s important to remember your roots.”
 
 
 
Saat itu, aku dan tim konsultan UX bertugas untuk mengembangkan sebuah aplikasi yang bisa membantu masyarakat di bidang pedesaan. Untuk mengembangkan aplikasi itu, kita harus melakukan user research untuk mempalajari pola perilaku masyarakat di lapangan. 
 
Rasanya kayak balik lagi pengalaman KKN tahun 2015, walaupun suasananya masih lebih dekat dengan pusat kota karena hanya berjarak dibawah 15 KM dari Stasiun Rangkasbitung. 
  
Belajar juga terutama saat pergi riset ke lapangan, ketika kita interview teman-teman dari masyarakat desa. Bagaimana cara kita mendengarkan, memberikan pertanyaan, dan masih banyak lagi. 

 

 
 
 
Lessons learned from this “not-so-travel” experience:

Selalu seru untuk melakukan KKN dadakan biar kita nggak tenggelam di hiruk pikuk kesibukan dan budaya kota. Pedesaan mengingatkan tentang kesederhanaan hidup yang sebenarnya.

 

 

6. A relaxing company outing in Bali

 
Yang tadinya aku kira company outing ada agenda penuh dan harus stick to the plan, ternyata banyak free time dan refreshing banget. Its what we all need.
 
Bali yang kalau dilihat udah cukup mainstream, selalu refreshing untuk dikunjungi. Terlebih lagi, acara perayaannya membuat suasana jadi lebih memorable.
 
 
 
 
 
Lessons learned from this travel experience:
Kadang kita perlu kabur dari rutinitas untuk bersantai, traveling tapi nggak dikejar itinerary, ya nyantai aja.

 

 

7. Mendaki Gunung Lawu dan melihat langsung savana yang terbakar

 
Salah satu challenge yang aku ambil di 2018 adalah untuk latihan naik gunung.
 
Kebetulan saat mendaki Gunung Lawu, sebulan sebelumnya baru aja ada kejadian kebakaran hutan. Bahkan saat kita mendaki, jalur pendakian Gunung Lawu juga baru banget di buka.
 
Begitu sampai di pos terakhir yaitu di daerah Savana nya yang seharusnya bagus banget, bisa dibilang dibilang 80% masih ditutup oleh warna hitam akibat kebaran hutan itu. Sayang banget sebenernya, karena kalau nggak gosong pasti cantik banget.
 
Tapi ini jadi pengalaman unik bagiku untuk melihat langsung bahwa alam nggak selalu indah. Alam itu juga vulnerable, dan tugas kita sebagai manusia adalah untuk menjaganya.
 
 
 
 
Lessons learned from this travel experience:
  • Kebakaran hutan di Gunung Lawu mengajarkan aku betapa kecilnya kita dibanding alam bebas 
  • Karena ini merupakan salah satu pengalaman pertamaku naik gunung yang lebih sulit dari biasanyapengalaman mendaki gunung juga ngajarin untuk jangan gampang nyerah di tengah jalan! Hahaha

 

Lihat perjalanan ke Savana Gunung Lawu yang terbakar:

Pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho: Potret Savana Pasca Kebakaran Hutan

 

8. Finland, kota yang merupakan salah satu pusat design dunia

“When you’re tired of your day to day work, look at the big picture and figure our your why all over again”

 

Sesaat setelah berkunjung ke Design Museum di Helsinki, Finland

 

Naik pesawat Finn Air lewat website, ternyata kita bisa pilih mau berapa lama transit di kota Finland. Karena nggak mau rugi, kita buatlah waktunya 3 hari 2 malam. Tinggal bersama teman kuliah salah satu teman kami, dan kita mampir ke kampusnya di Aalto University, Finland.

Sebagai orang yang berkarir di bidang design, Finland itu berasa “surga”. Tau nggak sama game angry birds? Sama game snakes yang dulu bikin nagih banget jaman-jaman hp Nokia? Semuanya berasal dari Finland. 

Disini kita dijelaskan mengenai proses desain yang sering banget di mention di kantor. Ternyata ilmu desain ini bisa menghasilkan banyak karya kreatif. Pengalaman ini menginspirasiku untuk merencanakan untuk sekolah lagi suatu saat nanti. 

 

 

Lesson learned from this travel experience:

Sekali-kali kunjungin lokasi dimana bidang kamu punya peran penting di tempat itu. Misalnya design di Finland. Art (mungkin, sotoy aja yang ini) di Prancis, IT mungkin di US, dan masih banyak lagi! Karena disitulah sumber inspirasi

Apalagi ketika kita mulai pusing dan jenuh di kerjaan kita sehari-hari, hal ini bisa bikin semangat lagi dan inget tujuan awal kita

 

 

9. Lost in Busan

“The art of getting lost in a foreign country.”
 

Footage from my personal video during that tragedy wkwkwk

 
 
Kejadian kocak ini terjadi abis ketemuan sama teman lama program exchange tahun 2014 di Korea. Tapi karena aku pulang agak mepet sama jam terakhir kereta, disitu lah ditimpa sial. Bis yang harusnya aku tumpangi nggak kunjung lewat, dan begitu aku naik bis yang ada pun aku salah turun.
 
Karena masih jauh dari asrama adikku tempat aku menginap, aku pun kebingungan. Mau tanya orang juga nggak ada yang ngerti bahasa inggris dan instruksi semua dalam bahasa hangul Korea… aka nggak ngerti!
 
Alhasil aku nyasar di Busan jam 12 malam, suhu mendekati 0 derajat, batre HP cepat habis karena suhu yang terlalu dingin. Dan harus jalan kaki pulang dengan arah yang nggak pasti.
 
Sampai ada orang lokal yang nyapa dan akhirnya aku komunikasi sama orang Korea di pinggir jalan yang pake aplikasi translator, dan ternyata apartemennya itu bersebrangan dengan asrama adikku. Ternyata di akhir-akhir aku baru sadar kalau dia lagi mabuk! LOL.
 
Akhirnya sampe juga di gerbang asrama adikku, dan aku akhirnya manjat. 
 
Walau agak nekat, ini jadi cerita yang berkesan bagiku!
 
 
 
Terlepas pengalaman gila tadi, perjalananku di Korea pun berkesan karena bisa catch up sama temen-temen lama yang pernah ketemu di program Jakarta Sister City Youth Program. Banyak hal yang berubah dari 4 tahun yang lalu.
Ada yang udah marathon keliling dunia dan lagi menulis buku tentang perjalanannya, sampai ada yang udah kerja di profesi yang ia sukai.
 
 
Lessons learned from this travel experience:
  • Travel safely! Di kasus ini mungkin aku berani nekat karena Korea yang setelah aku riset tingkat keamanannya relatif lebih tinggi. Lain cerita kalau aku di negara yang nggak aman, mungkin harus pikir-pikir ulang, mending cari cara lain! Tapi tetap sih, walaupun nekat harus disertain hati-hati!
  • Pelajaran di sisi logistik untuk siapkan power bank, dan aplikasi penting ketika traveling
  • Banyak-banyak berteman sama teman-teman dari berbagai macam background. Selalu ada hal dan inspirasi baru yang mungkin diluar dugaan kita. Temanku bahkan menginspirasi aku untuk membuat buku perjalanan, atau bentuk apapun yang bisa dibagikan ke orang lain.

 

***

 

Itulah sembilan travel moments-ku edisi tahun 2018. Ini baru sembilan pengalaman terpilih dari sekian banyak momen yang berarti bagiku selama 2018.
 
Aku bersyukur tahun ini ngasih aku banyak teman baru.
 
Banyak pengalaman baru.
 
Banyak kejutan baru.
 
I wonder what kind of surprise 2019 will hold.
 
And I hope you’ll have your best year as well!
 
 

Cheers!

Sabrina Anggraini

 

 

Baca juga:

My 2017 Best Nine Travel Stories That Gave Me Life Lessons